15/06/13

Pintar saja tidak cukup

Hmm,,,beberapa bulan setelah wisuda dan menerima ijasah adalah saat-saat yang paling galau sedunia. Sudah tidak ada lagi alasan untuk pergi kemana-mana tanpa tujuan, setiap ketemu orang pasti ditanya “udah kerja dimana?”, apakah orang-orang tidak mengerti bahwa pertanyaan yang mereka ajukan bagian dari beban tambahan yang diberikan pada kami “pengangguran intelek” ini. Apa lagi kalau kita dikenal sebagai salah satu orang yang dianugrahi otak diatas rata-rata—pinjen istilah projek orang..hehehe—hal itu semakin menambah beban pikiran dan membuat kita tambah galau. Selain sisi positifnya kita terus terpacu untuk terus berusaha, ya berusaha lamar sana-sini, milih-milih juga sih. Jangan sampai mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat dan passion kita, karena sedikit banyak hal tersebut akan mempengaruhi kinerja kita nantinya.

Semua lowongan yang pernah saya baca, berkesan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siapa saja yang berkompeten dibidangnya untuk menjadi bagian dari perusahaan tersebut. Fresh graduate pun diberikan kesempatan untuk meniti karir dan berkontribusi positif. Wah berarti bisa dong kita kerja dimana aja, dengan mengharapkan gaji yang ya…cukuplah untuk memnuhi kebutuhan kita sebagai seorang fresh graduate. Apa lagi kalau kita salah satu dari orang-orang yang berprestasi baik di kampus, makin banyak aja kesempatan itu. Sebagai orang “pintar” yang perlu kita usahakan adalah memilih kesempatan yang diberikan, bisa di perusahaan swasta, perusahaan milik negara, perusahaan asing, atau mungkin overseas alias kerja dinegara lain.

Tapi kenyataan tidak semudah bayangan, tidak semua orang “pintar” dapat mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Selain saat ini banyak sekali orang “pintar” yang membuat persaingan begitu ketat, juga banyak orang yang mencari jalan “pintar” untuk bersaing secara kurang sehat.
Ternyata pintar saja tidak cukup untuk mendapatkan pekerjaan di negeri ini, apa lagi kalau kita orang dari daerah yang terpencil, jauh dari pusat kota. Kebanyakan perkantoran berada di pusat kota atau bahkan lebih sempitnya ada di pusat pemerintahan. Biasanya didaerah itu hanya cabang-cabang kecil saja, ya meski tidak menutup kemungkinan ada beberapa perusahaan yang berasal dari daerah dan berkantor pusat didaerah.

Kita sebagai mahasiswa sederhana yang pintar, yang mendapatkan beasiswa untuk biaya pendidikan dan sedikit bekal yang tiap bulannya diberikan orang tua dari kampung hanya mampu bertahan sampai lulus kuliah. Setelah itu, orang tua merasa tidak sanggup lagi untuk memberikan bekal saat kita tinggal diluar kota. Dengan berat hati kita meninggalkan kota tempat kita kuliah dan sedikit mengubur cita-cita untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak dikota besar. Kita tidak dapat lagi melamar diperusahaan besar katena jarak yang terlalu jauh dan biaya perjalanan yang besar untuk mengikuti berbagai test, dan itu belum tentu diterima. Jalan lain yang diambil adalah mencari perusahaan-perusahaan lokal atau perusahaan milik negara yang berada dekat dengan tempat tinggal.

Namun, lagi-lagi, ternyata pintar saja tidak cukup saudara. Perusahaan swasta lokal, oklah saya masih bisa berusaha semampu saya untuk dapat menjadi bagian dari mereka. Namun pilihannya hanya sedikit karena sebagian besar mata pencaharian di kampung adalah bertani dan usaha kreatif—seperti kerajinan. Beranjak melirik beberapa perusahaan milik Negara, prosesnya panjang, pelamarnya ribuan, dan yang paling menjengkelkan adalah masih banyaknya praktek “tipu-tipu”. Tidak ada koneksi ya susah.

Hmm,,ko kurang beruntung ya jadi orang pintar yang keuangannya sangat terbatas dan tidak punya koneksi???
Apakah saya salah menjadi orang pintar seperti itu???
:)

1 komentar:

  1. Ga salah teh, ini hanya soal keyakinan saja. Jika kita bertakwa, Allah akan memberikan rezeki tidak disangka2 (at-thalaq 2-3).

    BalasHapus