07/08/13

Ramadhan Rush


Ramadhan memang selalu memberikan cerita yang berbeda dan istimewa setiap tahunnya. Seperti beberapa tahun lalu yang beramadhan dikota orang sampai cerita mudikpun pernah diberikan oleh ramadhan saya. Ramadhan kali ini memberikan pengalaman yang lain pula,,,

Ramadhan tahun ini terasa sangat berbeda, karena biasanya saya beramadhan dengan keluarga dan teman atau dengan teman saja—ketika saya sedang berada di kota orang. Tapi ramadhan kali ini saya hanya beramadhan dengan keluarga. Pasalnya beberapa bulan sebelum ramadhan, saya telah menyelesaikan pendidikan dan belum memulai pekerjaan baru. Jadilah hanya beramadhan dirumah dengan kegiatan yang itu-itu saja. Terasa bosan memang, tapi ya bagaimana lagi.

Oh iya, saya baru akan mulai bekerja seminggu setelah lebaran. Ada sebulan penuh yang dapat saya manfaatkan untuk mempersiapkan itu semua. Mulai dari persiapa fisik, mental—ternyata lama tidak bekerja, ada perasaan tegang untuk memulainya kembali—sampai persiapan tempat kost. Rencananya, saya ingin meminta tolong teman untuk mencarikan tempat kost. Kebetulan ada teman yang tinggal berdekatan dengan lokasi kantor baru saya. Jadilah saya mulai menghubungi dia dan menanyakan masalah kost, dan dia merekomendasikan saya untuk tinggal dikost tempat dia tinggal. Kebetulan masih ada kamar kosong katanya.

Dengan konsisi seperti itu, saya merasa sudah tenang karena sudah mendapatkan kost. Jadi nanti habis lebaran tinggal pindahan, tidak perlu mencari-cari kost lagi. Namun, dua minggu menjelang lebaran saya mendengar kabar bahwa teman saya ini kehilangan motor yang diparkirnya didepan kost. Wah, ko jadi horror. Berarti kostannya ga aman.

Seminggu kemudian saya baru dapat menghubungi teman saya itu, karena dia baru beres mengurusi masalah kehilangannya. Ketika ditanya, ternyata dia juga berencana untuk pindah kostan. Saya pikir saya dapat meminta bantuannya untuk mencarikan kost juga, tapi entah karena dia masih sibuk atau apa, dia menjadi sangat susah untuk saya hubungi. Padahal lebaran sudah tinggal beberapa hari saja waktu itu.

Setelah saya mencoba menghubungi beberapa teman yang saya rasa mengetahui daerah Jakarta, Alhamdulillah masih ada teman yang mau membantu menemani saya mencari kostan. Karena waktu mepet, cepat-cepatlah saya mencari tiket kereta api pulang pergi untuk ke Jakarta. Saya memilih kereta karena saya takut terkena arus mudik bila menggunakan travel atau bis. Alhamdulillah masih dapat tiket kereta.

Sesampainya di Jakarta, saya langsung menghubungi teman saya untuk mencari kostan. Setelah menunggu beberapa jam—lebai sih…hehehe—akhirnya bertemulah kami. Dicuaca yang terik itu, kami berdua berkeliling mencari kostan. Dari satu gang ke gang lainnya, dari satu rumah ke rumah lainnya. Akhirnya setelah berkeliling kurang lebih satu jam, dapatlah kostan yang lumayan nyaman dengan fasilitas yang lumayan juga. Setelah beres, kami langsung menuju rumahnya. Karena memang hari itu saya menginap dirumahnya dan baru kembali ke Bandung pada keesokan harinya.

Rumahnya cukup jauh, kami menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dengan comuter—kereta jabodetabek. Setelah satu jam, sampailah kami distasiun tujuan. Ternyata jalan menuju rumahnya pun lumayan jauh, sampai capek. Ya mungkin karena belum terbiasa saja jadi perjalanan dari stasiun ke rumah teman saya itu terasa jauh.

Sesampainya dirumah, saya dijamu dengan sangat baik. Disiapin makanan untuk buka dan sahur, dibawain oleh-oleh pas pulang, sampai dibekamin coba. (makasih ya… :) )

Dan ceritapun dimulai saat perjalanan pulang.
Pagi itu saya berencana berangkat ke stasiun pukul 10.00, tapi kata teman saya nanti saja setengah sebelasan karena perjalanan cepat kan pake kereta. Ya sudah saya menurut saja, karena saya lihat juga dia masih sibuk dengan beberapa pekerjaan rumahnya. Sampai akhirnya, berangkatlah kami pukul 11.00… :’(

Sampai distasiun yang berdekatan dengan rumahnya sudah pukul 11.30, padahal jadwal kereta saya pukul 12.30. Tapi saya masih berpikiran positif, bahwa keretanya masih bisa kekejar. Samapi pada akhirnya saya menyadari bahwa perjalanan itu akan memakan waktu yang lama. Setiap menit saya melirik ke jam tangan saya, sudah jam 12.15 tapi perjalanan masih panjang. Pukul 12.20, saya sudah muali pasrah.

Tiba-tiba saya merubah rencana, yang tadinya saya berangkat di stasiun utama kemudian saya minta teman saya untuk membawa saya ke stasiun berikutnya. Saya pikir dapat naik distasiun berikutnya, karena kemarin saat berangkat kereta yang saya tumpangi berhenti di stasiun tersebut. Dalam perjalanan ke stasiun berikutnya, teman saya menelepon temannya untuk menanyakan apakah dapat naik di stasiun berikutnya. Dan ternyata kereta tidak berhenti di stasiun tersebut, dan perjalananpun masih jauh untuk mencapai stasiun berikutnya itu. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke tujuan awal, menuju stasiun utama. Turunlah kami, dan berganti kerera.

Saya yang sudah pasrah dan teman saya yang pasti merasa tidak enak—sanati, ga usah ga enak sama saya.hehehe—mulai mencari alternative lain dengan mencoba mencari tiket kereta untuk keberangkatan selanjutnya. Setelah saya liat situs resmi PT. KAI, ternyata semua tiket untuk hari itu sudah habis. Mulai bingung dan terus memutar otak agar bisa pulang hari ini. Saya tanyakan kepada teman saya, apakah ada terminal bis yang dekat dengan stasiun. Dia bilang ga ada, semuanya jauh.

Akhirnya teman saya menelepon salah satu travel yang berada dekat dengan rumahnya. Alhamdulillah masih ada kursi kosong ternyata, tapi saya masih waswas bakalan nyampe rumah jam berapa. Karena saya pikir hari itu masih puncak-puncaknya orang mudik.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan hamper ke tempat asal kami berangkat…
Sesampainya di pul travel, para penumpang masih belum datang semua. Karena memang jadwal keberangkatan yang masih sekitar satu jam lagi. Meskipun telah mendapatkan tempat duduk, tapi saya masih khawatir. Jangan-jangan besok nih sampai rumah, jangan-jangan macetnya parah, dan pikiran-pikiran negatif lainnya.

Jadwal keberangkatan memang pukul 15.45, tapi karena satu dan lain hal jadilah mobil baru jalan sekitar pukul 16.00. Sudah apatis duluan kalau bakalan telat nyampe rumah, bagaimana tidak masuk tol saja baru sekitar pukul 16.20. Karena kecapean dengan perjalanan hari ini, akhirnya saya tertidur. Tak terasa saya tidur cukup lama juga, sekitar pukul 17.29 saya bangun dan melihat jalanan ternyata lancar. Penasaran ingin mengetahui sekarang sudah berada dimana, saya melongok melihat jendela. Ternyata sudah samapi di km 80-an. WOW…cepet banget, beneran ga macet.

Alhamdulillah, sampai tujuan beberapa menit setelah adzan magrib.

What a long jurney…

3 komentar: