10/11/11

Sosialisasi SEACYBERCLASS di Bandar Lampung

Bukan hanya lari marathon yang pernah saya ikuti, ternyata dalam pembelajaranpun begitu. Belum beres pelatihan cyberclass yang dilaksanakan di kantor Seamolec, saya sudah dipanggil untuk berangkat ke Bandar Lampung hari Jumat, 7 Oktober 2011. Untungnya kegiatan inti Seacyberclass di Seamolec hanya sampai dengan hari kamis, dan kamis malam kegiatan tersebut sudah resmi di tutup.

Jumat pagi, sekitar pukul 04.30 kami berangkat ke bandara karena kami mengambil penerbangan pukul 07.00. Berlima kami berangkat, ada Pak Timin – beliau yang mengajari moodle, Pak Faisal – sampai sekarang saya tidak tahu persis beliau ada di divisi mana, tapi katanya beliaulah yang nanti akan mengurusi semua kebutuhan kami setelah di ITB, rekan saya Subli, dan Dhevi.

Sampai di sana sekitar pukul 08.00, karena janji dengan dinas pukul 13.00 maka kami berangkat ke hotel untuk beristirahat dulu. Setelah jumatan dan makan siang, saya, Subli dan Pak Timin pergi ke Dinas Pendidikan Provinsi Lampung. Disana kami bertemu dengan kepala dinas yang ternyata seorang perempuan. Koordinasi cukup panjang karena memang ternyata surat yang dikirimkan salah sasaran. Namun, untungnya dinas provinsi bersedia membantu untuk menginstruksikan kepala-kepala sekolah SMA dan SMK untuk berkumpul di salah satu SMA guna mengikuti sosialisasi SEACYBERCLASS dari Seamolec.

Akhirnya sosialisasi dilaksanakan di SMK 2 Bandar Lampung, saya cukup terkesan dan kagum dengan jumlah peserta yang hadir – padahal hari itu sabtu dan hujan pula. Peserta yang tadinya kami prediksi sekitar 20 an, ternyata yang hadir lebih dari 30 orang. Semua antusias, sampai ada beberapa pertanyaan yang saya pikir begitu bagus dan sangat dapat meningkatkan daya jual system ini bila dapat diimplementasikan.

Pelatihan SEACYBERCLASS

Jumat, 28 September 2011. Sepulangnya dari tugas di SMK 57, saya diberitahu oleh salah seorang teman untuk mengikuti pengarahan yang dilakukan besok di kantor Seamolec. Jadilah saya pergi ke Seamolec dan izin mengajar di SMK Islamiyah, selain untuk menghadiri pengarahan kesempatan itu juga saya gunakan untuk menanyakan tugas yang belum saya rampungkan karena tugas kemarin – kalau kata pepatah sambil menyelam minum-minum cuy…hehehe.

Pengarahan yang harusnya dilaksanakan pada pukul 13.00, baru mulai pada pukul 14.00 – ngaret uy, diselingi makan siang pula. Disana kami diinformasikan masalah Seacyberclass, yang tujuannya adalah Latihan Ujian Bersama tanpa menghamburkan biaya untuk penyediaan kertas karena perangkat yang digunakan hanyalah computer/laptop dan LCD proyektor. Setelah itu kami disodori simulasi pengerjaan ujian dengan system cyberclass – teknik baru yang cerdas, tapi sangat tergantung listrik dan menurut saya masih sangat mengganggu siswa dengan pengerjaan soal yang tidak bisa diloncat.

Simulasi cyberclass selesai, dilanjutkan dengan pelatihan bagaimana cara mengolah hasil ujiannya. Perangkat yang digunakan adalah laptop dan sebuah scanner, scanner berfungsi untuk mambaca lembar jawaban dan hasilnya disimpan pada laptop yang kemudian diolah menjadi bentuk grafik. Sederhananya, system ini adalah cara untuk memantau tingkat kemajuan siswa dalam menghadapi Ujian Nasional dengan latihan ujian bersama yang dilakukan beberapa bulan sebelumnya.

Ternyata pengarahan ini ditujuan untuk pelatihan yang akan dilaksanakan senin depan selama lima hari. Pesertanya adalah guru mata pelajaran matematika, bahasa inggris, bahasa Indonesia, serta teknisi sekolah. Pada pelaksanaannya, system cyberclass hanya diperkenalkan saja pada guru-guru mata pelajaran, sedangkan detailnya diberikan pada teknisi sekolah.



Saya ditugaskan untuk menjadi pendamping kelas di mata pelajaran matematika. Tugas saya bukan hanya menyediakan apa saja yang dibutuhkan oleh para fasilitator, tapi juga menjadi pengarah acara dadakan. Dengan pengalaman berbicara didepan yang minim, saya beranikan untuk mengarahkan acara dengan sedikit diselingi candaan agar suasana menjadi lebih akrab. Alhamdulillah, usaha saya di apresiasi oleh semua peserta, bahkan fasilitaor.



Guru-guru mata pelajaran yang mengikuti pelatihan ini lebih banyak mendapat materi tentang bagaimana cara mambuat soal yang baik dan benar, sehingga dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mamahami pembelajaran secara keseluruhan. Selain itu, kami juga memberikan materi tentang cara pembuatan blog, skype dan google plus yang nantinya digunakan sebagai media komunikasi antar guru.

Pelatihan PVB SMK 57 Jakarta

Kamis, 22 September 2011, seseorang staf Seamolec mencari saya dan salah seorang teman. Pak Prayit namanya, beliau meminta saya untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Seamolec untuk memberikan pelatihan PVB di SMK 57, Jakarta. Saya memang tidak mengerti apa itu PVB, tapi setelah dijelaskan ternyata materi yang akan diberikan adalah bagaimana caranya menyampaikan bahan ajar pada siswa di tempat yang berbeda. Sederhananya, pembuatan system pembelajaran jarak jauh – yang memang sebelumnya telah diajarkan dikelas, saya memang tidak terlalu mahir tapi bisa diandalkanlah.

Selain saya, ada empat staf Seamolec yang bertugas disana. Mereka adalah Pak Edo – beliau yang mengajari saya bagaimana cara membuat video sederhana seminggu sebelumnya, Pak Dona – saya baru kenal beliau beberapa hari sebelum berangkat, Pak Iman dan Pak Bruri – bahkan saya baru mengenal mereka pada hari dilaksanakannya tugas.

Pelatihan ini dilaksanakan selama lima hari, dimulai pada hari senin 26 September 2011. Sesampainya di SMK 57, kami breafing sebentar untuk membagi tugas masing-masing. Acara dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama adalah pengisian materi pada moodle dan sesi ke dua adalah pembuatan video pembelajaran. Saya ditugasi untuk memberikan materi berkenaan dengan memasukan konten tugas dan ujian pada moodle di hari ke tiga– salah satu software yang digunakan untuk menyampaikan bahan ajar jarak jauh.

SMK 57, Jakarta merupakan sekolah kejuruan dengan konsentrasi pada bidang perhotelan. Sekolah tersebut bekerjasama dengan STP Sahid dalam rangka membuka jenjang D1 pariwisata dengan subkampus di SMK 57. Peserta yang mengikuti pelatihan ini terdiri dari dosen STP Sahid, guru SMK 57, teknisi , dan beberapa siswa yang nantinya membantu para guru untuk memasukan materi pada system moodle.

Saat saya memberikan materi pada hari ke tiga, saya menyapaikan bagaimana caranya memasukan soal-soal pilihan ganda dengan menggunakan salah satu format soal pada moodle. Setelah menjelaskan, saya minta setiap peserta untuk membuat sebuah file yang berisi soal dengan format yang telah saya jelaskan sebelumnya. Kemudian kami mencoba untuk meng-import file tersebut, ternyata import file yang dilakukan gagal karena salah format. Saya melihat kepanikan pada rekan-rekan lainnya, namun karena saya telah mengetahui kesalahan itu sebelumnya saya tetap tenang dan tersenyum didepan ruangan. Saya sudah menemukan cara mengelak yang sangat indah, saya jelaskan kembali bahwa format tersebut adalah format baku yang tidak dapat diganggu gugat, meskipun kesalahan yang terjadi hanyalah masalah penggunaan huruf. Kemudian saya tunjukan bagaimana cara memperbaiki kesalah tersebut tanpa harus membuat file baru.

Dan Alhamdulillah tidak ada satu pesertapun yang menyangkn jika kesalahan itu terjadi tanpa sengaja, semua beranggapan saya sengaja melakukan itu untuk menunjkan bagaimana cara memperbaikinya.
Hmm, satu point yang saya dapatkan,,,

19/10/11

There's Always Be The First Time

Kalimat tersebut sangat cocok untuk siapa saja, semua orang pasti mengalami waktu pertama kali nya. Untuk bisa berlari seperti sekarang, pasti diawali dengan berjalan, sebelum berjalan diawali dengan merangkak. Setiap permulaan itu memang sebuah momen yang bersejarah untuk setiap kita dan juga yang menimbuklan perasaan bercambur aduk. Sangat antusias, grogi, ragu, bimbang dan sebagainya. Semuanya bercampur dan terkadang rasa ragu yang mendominasi perasaan tersebut. Well, apapun itu semuanya harus diawali karena tidak akan terjadi sesuatu yang besar jika tidak pernah diawali.


Begitu pula dengan pengalaman-pengalaman saya untuk pertama kalinya. Pengalaman saya berada didepan orang untuk menjelaskan sesuatu adalah ketika saya berada di bangku SMP, meskipun hanya menyampaikan beberapa kalimat dan hanya berhadapan dengan teman sekelas tapi rasanya seperti dilihat oleh ribuan orang. Itulah permulaannya, awalnya dengan suara yang pelan, beberapa kalimat dan ditemani oleh beberapa teman sampai akhirnya berani berbicara sendiri didepan kelas. Maju ke SMA, kuliah, kantor semuanya berjalan setahap demi setahap. Terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara presentasi didepan orang-orang sekalangan (di sekolah hanya berhadapan dengan orang-orang dengan latar belakang pendidikan sama—teman sebaya) dengan orang-orang dari berbagai kalangan. Pengalaman berharga ini saya dapatkan ketika bekerja disalah satu perusahaan telekomunikasi di Jakarta. Pengalaman berbicara didepan umum sepertinya sudah saya pahami semuanya, tidak masalah siapapun kalangannya karena saya pernah melakukan hal tersebut sebelumnya.

Pengalaman pertama kali berikutnya adalah tinggal jauh dari keluarga. Selama sekolah saya tidak pernah jauh dari keluarga, namun setelah lulus saya harus bekerja di luar kota dan meninggalkan semua keluarga dan teman-teman. Awalnya perasaan tidak nyaman dan keinginan untuk pulang selalu menghantui, tapi saya beranggapan bahwa kemajuan harus dikejar dan mungkin dia tidak ada disekitar lingkungan rumah ataupun keluarga. Hal itu yang lagi-lagi membuat saya dapat melalui waktu sulit tersebut. Sampai sekarang saya masih tinggal diluar kota, jauh dari keluarga (meskipun sebentar lagi akan kembali ke kota kelahiran,,,,,horeeeee!!!!)

Pengalaman pertama kali berikutnya adalah pergi keluar kota dengan menggunakan pesawat terbang. Karena keluarga kami masih menganut “makan ga makan kumpul”, maka sebagian besar keluarga masih berada dalam satu pulau yang sama (pulau terpadat di Indonesia). Itu salah satu alasan saya tidak pernah bepergian dengan menggunakan pesawat terbang, dan alasan lainnya adalah biaya…hehehe.
Ini adalah pengalaman pertama dalam hidup saya, terbang ke pulau sebelah. ya, meskipun perjalanan hanya memakan waktu 30 menit tapi saya pernah merasakan pergi ke bandara dan guncangan pesawat saat take off dan landing. :P
Perasaan saya saati itu sangat antusias, meskipun selama perjalanan saya terus menampakan raut wajah cool agar tidak terlihat ndeso….hehehe



Pengalaman pertama lainnya adalah tinggal di penginapan (hotel) selama dua minggu berturut-turut. Wow,,,tugas yang menyenangkan dan perjalanan yang menggembirakan. Meskipun memang sangat melelahkan, tapi ini merupakan pengalaman yang tidak didapatkan semua orang. Sambil kuliah dapat bekerja juga, pengalaman yang dihargai double. Alhamdulillah, tak hentinya syukurku pada Mu ya Allah.
Pengalaman pertama lainnya ketika melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi. Waktu kecil kantor seperti itu menjadi tempat bermain saya, ya maklum ayah saya memang pegawai di dinas. Tapi kali ini berbeda, saya berada disana untuk melakukan koordinasi demi berjalannya sebuah acara yang sudah dirancang sebelumnya. Alhamdulillah lagi kegiatan tersebut berjalan lancar.

Itulah sepenggal kisah pengalaman pertama kali dalam setiap hal, intinya adalah kali pertama itu memang harus dilalui untuk mengetahui apakah kita memang dapat melalui masa sulit lainnya. Karena kali pertama itu salah satu masa yang dapat dikatakan sulit, semua perasaan muncul disana dan tidak jarang keraguna yang membuat kita mengurungkan kesempatan kali pertama tersebut.