28/05/12

Crazy Little Thing Called Love



Ga ada habisnya konsultasi masalah ini, heran padahal setiap telpon ataupun ketemu pasti yang dibahas itu lagi, itu lagi—sebenernya engga juga sih,,,hehehe. Atau memang masalah ini ga akan pernah berakhir sampai ketemu dengan orang yang memang berjodoh dengan kita???—waduh pembahasannya,,,ga nahan…wkwkwkwk
Topik utamanya ga jauh-jauh dengan masalah “percintaan”, bukan kegalauan tapi hanya sedikit bingung dengan perasaan sendiri. Banyak faktor yang membuat orang dapat tertarik dengan lawan jenis. Karena dia baik, perhatian, selalu ada saat dibutuhkan—siga naon wae—dan yang lainnya. Ataupun karena intensitas interaksi, ya kan kata om dhani cinta datang karena terbiasa.

Di wiken yang “sempurna” ini—karena lagi-lagi dihabiskan dengan mereka yang jarang banget ketemu—lagi-lagi kami membahas masalah yang satu ini. Sebenernya hanya mendengarkan dan memberikan tanggapan yang sama terhadap masalah yang sudah sering banget diobrolkan—sampe apal, kalo dia ngomong gini tanggapannya gini.hahaha. Kali ini yang beda adalah adanya “tamu istimewa” yang telah merelakan waktunya dengan menempuh perjalanan panjang untuk bertemu dengan kita—lebay.  Ibu psikolog kita, penasehat pribadi, teman curhat…hehehe. Kalau menurut saya dia satu-satunya orang yang dapat dijadikan tempat curhat siapa saja (Y).
Dia lebih bisa memberikan penjelasan dari dua belah pihak, dan berhasil membuat saya benar-benar mengangguk setuju dengan semua argumentasi dan penjelasannya. Ok, ternyata terori yang mengatakan bahwa pria memiliki 9 logika dan 1 perasaan penjelasannya adalah seperti ini. Dalam masalah hubungan antara pria dan wanita, si pria berpikiran tidak perlu banyak mengumbar kata-kata untuk menjadikan seorang wanita sebagai pacarnya. Karena yang mereka lihat hanyalah bagaimana si wanita merespon segala hal yang diberikannya, termasuk perhatian. Sedangkan wanita, dengan 9 perasaannya terus menebak-nebak maksud dari si pria. Akhirnya si pria merasa tidak perlu memberikan penjelasan tentang hubungannya dengan si wanita karena secara logika dia merasa si wanita setuju dan bersedia menjadi pacarnya, dengan semua respon atas interaksi yang telah dibangun. Namun, disisi lain si wanita terus menunggu penjelasaan si pria untuk hubungan mereka.

Hmm,,kompleks yo
Dari obrolan yang berkutat dimasalah itu, satu yang dapat disimpulkan bahwa pada saat-saat seperti ini, umur-umur segini sebenarnya yang kita butuhkan adalah teman. Teman untuk berbagi segala hal kayanya…hehehe.

Ngomong-ngomong masalah jodoh, jadi keinget perkataan seseorang. Kata dia, jodoh itu masalah kualitas. Kita akan bertemu dengan orang yang kualitasnya sama dengan kita, maka teruslah meningkatkan kualitas diri dalam segala hal untuk mendapatkan orang terbaik. Kalau kata di film sih burung yang sejenis terbang bersamaan.

Kualitas diri…
Hmm,,berhubungan dengan kedewasaan berpikir dan kepandaian menempatkan diri. Keadaan selalu siap untuk menghadapi hal paling buruk sekalipun. Keadaan paling buruk, ketika dihadapkan pada pertarungan perasaan dan kebenaran yang sudah tertanam dari kecil.

Hope the best for you-lah, mudah-mudahan kita dapat selalu terus meningkatkan kualitas diri dan segera mendapatkan yang terbik.

1 komentar: